Social Movement Festival 2 – Cinta Budaya Indonesia

30-05-2012 11:05:47 By Desca A. Yudha
img

Social Movement Festival 2 – Cinta Budaya Indonesia  Generasi muda adalah generasi yang lebih cepat dalam mengadaptasi kemajuan teknologi. Hal yang serupa juga terjadi dalam menyerap budaya luar yang sedang gencarnya mempengaruhi kaum muda. Tentunya ini akan menjadi tantangan bagi kaum muda sendiri, bagaimana caranya memanfaatkan kemajuan teknologi untuk bersama-sama lebih peduli, bangga dan cinta pada budaya Indonesia. Hal tersebut yang melatarbelakangi diselenggarakannya Social Movement Festival 2 oleh Rotaract Semanggi Jakarta di @america, Pacific Place, pada tanggal 27 Mei 2012 lalu. Sesuai dengan tema yang diusung kali ini, yaitu “Cultures Meets Technology”. Maka sederetan acara talkshow pun diisi dengan mengundang pembicara dari para pelaku di bidang seni dan kebudayaan. Di bidang film misalnya, mengundang filmmaker muda berprestasi Adhyatmika, untuk membagi pengetahuannya mengenai penggunaan film sebagai media untuk mengkritik isu sosial dan politik. Lain lagi halnya dengan produser Vivian Idris, yang telah bekerja sama dengan sutradara Nia Dinata untuk membuat sebuah film dokumenter tentang pembuatan Batik dan orang-orang dibalik industri tersebut dalam “Batik Our Love Story”. Sebuah film yang dijadikan sebagai media untuk pelestarian kebudayaan. Sementara itu Dr. Sarlito Wirawan dan Dr. Margareta dari komunitas Wayang UI ikut berbagi mengenai seluk-beluk seni pertunjukan Wayang sebagai cerminan aneka budaya Indonesia. Mengenai tantangan yang dihadapi dalam pelestarian Wayang, Dr. Margareta menegaskan “Bagaimana cara kita mensiasati teknologi, supaya Wayang tidak hilang”.  Sedangkan pelestarian kesenian musik tradisional dengan menggunakan teknologi, dilakukan oleh musisi Dwiki Dharmawan. Musisi yang sebelumnya terjun di jalur musik populer ini sudah bertahun-tahun bersama grupnya membuat komposisi musik tradisional yang digabungkan dengan musik moderen. Tentunya ada tantangan dalam mengemas musik gamelan dengan musik moderen ini. “Bagaimana gamelan yang dimainkan ada unsur funk dan beat, tapi juga tidak meninggalkan ciri khas gamelan” jelas musisi yang akrab disapa Kang Dwiki. Serta masih banyak tokoh lainnya yang ikut membagi karya atau pemikirannya mengenai pemanfaatan teknologi untuk mencintai budaya Indonesia, pada sesi kedua yang berlangsung hingga malam hari. Selain itu acara ini juga diramaikan dengan pertunjukan lagu-lagu daerah, dan tari-tarian tradisional  yang dibawakan dengan apik oleh mahasiswa, dan anak-anak usia playgroup.