Jogja Broadway - Apel I'm In Love

22-05-2012 02:05:55 By Muhammad Ishlah Alfath
img

Apel, I’m in Love yang menampilkan JogjaBroadway Theater. Pementasan yang dikemas dengan gaya theatre of broadway, dengan musik dan tarian, tata artistik dan spektakle pemanggungan yang membuat panggung menjadi sangat imajinatif. JogjaBroadway Theatre, merupakan prakarsa sehimpun pekerja teater di Yogyakarta, yang menyadari bahwa teater bisa menjadi alat edukasi sekaligus hiburan yang merangsang imajinasi. Dalam lakon ini, mereka mengolah perkakas dunia sehari-hari seperti ember, panci, sapu, gantungan baju, piring dan lain-lain menjadi sesuatu yang puitis, artistik dan hidup. Lakon juga ini mengolah dunia dongeng, di mana benda-benda itu hidup pada malam hari, dan memadukannya dengan realitas aktual sosial yang terjadi: tentang orang-orang yang jatuh cinta pada Putri Apel. Siapa Putri Apel itu? Realitas politik yang banal, dalam pertunjukan ini dibawa ke dalam kisah dongeng yang artistik dan puitis. Bintang tamu pada pentas ini adalah Olga Lidya, dan didukung para komedian Yogyakarta, Gareng Rakasisi, Joned, Wisben dan Yu Ningsih. INDONESIA KITA ialah program pementasan yang didukung oleh DJARUM Foundation, yang mengolah gagasan dan semangat terus berproses “menjadi Indonesia”. Pentas-pentas yang digagas INDONESIA KITA berusaha terus merefleksikan semangat untuk mencintai Indonesia, yakni proses menjadi bangsa yang semakin menghargai jalan kebudayaan, dengan semakin menempatkan nilai-nilai yang toleran, menghargai pluralisme dan keberagaman sebagai sesuatu yang inheren dalam proses berbangsa dan bernegara. INDONESIA KITA berkeinginan merawat semangat “menjadi Indonesia” yang seperti itu. Pertunjukan INDONESIA KITA yang segera menyusul setelah pementasan Apel, I’m in Love adalah Kebayan Jadi Presiden, yang mengolah khasanah seni yang tumbuh dan berakar pada kebudayaan Sunda. Dalam lakon ini, yang tradisi dan modern dipakai sebagai sebuah kekuatan artistik untuk menyatakan “kejujuran”, di mana Kabayan yang jujur dan lugu, kemudian menjadi aset berharga: ia ditawari menjadi Presiden. Sebuah sindiran perihal hilangnya kejujuran di republik ini. Kemudian Maling Kondang, mengambil latar kisah dari Sumatera Barat (Minang) lakon ini berkisah tentang keserakahan orang-orang yang kemudian malah menjadi kondang dan tersohor. Seolah menjadi maling adalah cara lain untuk menjadi terkenal.  Kemudian Nyonya Nyonya Istana, yang akan didukung para sosialita Jakarta. Pentas ini mengambil bentuk pementasan bergaya urban, tentang nyonya-nyonya yang sesungguhnya banyak menguasai dan mengatur kebijaksaan publik, dibanding para semua mereka yanng menjadi pejabat dan pemimpin. Empat pertunjukan itu akan di gelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta sepanjang tahun 2012 ini. Jangan sampai lewatkan. Dan jadilah bagian untuk terus mencintai dan merawat Indonesia sebagai rumah bersama yang penuh toleransi. Jangan pernah kapok menjadi Indonesia.