NEWYORKARTO - Konser Jogja Hip Hop Foundation

17-04-2012 09:04:24 By Desca A. Yudha
img

NewYorkarto - Konser Hip-Hop Bernuansa Adat Jawa Jogja Hip-Hop Foundation (JHF), sebuah grup hip-hop berbahasa Jawa yang memiliki fan base kuat di Jogjakarta mempersembahkan konser tunggal perdana mereka dalam “NewYorkarto – Orang Jawa Ngerap di New York”, di Gedung Graha Bakti Budaya, Taman Izmail Marzuki pada hari Jumat dan Sabtu, 27-28 April lalu. Kekuatan dan keunikan konser Jogja Hip-Hop Foundation kali ini terletak pada unsur musikalitasnya yang memadukan antara hip-hop dengan musik gamelan dan string orkestra. Ditambah dengan adanya elemen artistik melalui multimedia, wayang, fragmen monolog dan koreografi tari, maka tidak heran jika tiket konser yang tersedia telah habis terjual. Padahal pada waktu yang bersamaan, Super Junior dan Second Hand Serenade juga sedang menggelar konsernya di Jakarta. NewYorkarto yang didukung penuh oleh Djarum Apresiasi Budaya ini, menggandeng Djaduk Ferianto (music director) dan Agus Noor (direktur pertunjukan) untuk menggarap alur pertunjukan yang menggambarkan perjalanan Jogja Hip-Hop Foundation dalam membangun mimpi dan idealisme bermusiknya dari akar tradisi kebudayaan Jawa. Pada malam itu, konser dibuka dengan penampilan salah satu personil Jogja Hip-Hop Foundation yang berduet dengan Soimah Pancawati, membawakan lagu yang menceritakan tentang ketuhanan. Di bagian awal saja penonton sudah disuguhi visual yang menarik dari kostum yang digunakan, keduanya berpakaian casual dengan warna serba hitam, menggunakan sepatu sneakers yang menjadi signature style para rapper, kacamata hitam, serta kain batik kudus yang dikaitkan di pinggang. Batik kudus juga terlihat dikenakan oleh para personil Jogja Hip-Hop Foundation pada beberapa lagu berikutnya. Selain Soimah Pancawati yang sempat tampil ‘nyinden’ di salah satu lagu Jogja Hip-Hop Foundation, pertunjukan NewYorkarto juga didukung oleh musisi hip-hop/rapper lokal seperti Iwa K, Saykoji dan budayawan, Butet Kartaredjasa. Di tengah-tengah konser, Juki (kill the DJ) salah satu penggagas Jogja Hip-Hop Foundation menceritakan proses kreatif mereka dalam menulis teks lagu. Ternyata beberapa teks lagu adalah hasil penulisan ulang dari mantra, permaianan anak-anak, dan kitab kuno Jawa. Misalnya pada lagu “Jaman Edan”, Jogja Hip-Hop Foundation menulis ulang kitab Jongko Joyoboyo yang juga dikaitkan dengan kondisi jaman sekarang kedalam teks lagunya. Sehingga unsur kebudayaan Jawa semakin kental dalam musik hip-hop. Suasana pun semakin meriah ketika para penari muncul dari belakang penonton berjalan menuju ke panggung dengan berpakaian bak prajurit keraton, lengkap dengan membawa bendera-bendera. Para personil Jogja Hip-Hop Foundation muncul dari bagian sayap kursi penonton, menyapa para penonton dari lebih dekat, lalu mengajak mereka untuk berdiri dan sama-sama menyanyikan lagu “Jogja Istimewa”. Lagu ini begitu familiar di telinga para penonton sehingga mereka tampak begitu semangat dalam bernyanyi,  dan hal ini sekaligus menjadi tanda bahwa pertunjukan akan segera berakhir. Namun setelah seluruh pendukung acara dipanggil ke atas panggung, ternyata para penonton berteriak untuk meminta sekali lagi penampilan dari Jogja Hip-Hop Foundation. Kemudian satu lagu terakhir pun mereka bawakan sebagai penutup konser malam itu yang turut diiringi dengan perasaan penonton yang larut dalam sukacita. Walaupun kami dan mungkin sebagian penonton tidak mengerti bahasa Jawa yang kerap kali mereka tuturkan, tapi sepertinya spirit musik hip-hop yang mereka hadirkan berhasil mencuri simpati kami untuk turut mengapresiasi salah satu kekayaan budaya bangsa ini. Desca Ardhi Yudha Egon Saputra