Jakarta International Djarum Super Mild Java Jazz Festival 2012

07-03-2012 03:03:43 By Desca A. Yudha
img

Menjadi Tuan Rumah Yang Baik Di Ajang Festival Musik Jazz Internasional Kira-kira itulah harapan Indonesia sebagai tuan rumah dari perhelatan akbar festival musik Jazz yang kini telah menginjak tahun kedelapan kepada para musisi dan penggemar musik Jazz. Tentunya berbagai cara pun dilakukan pihak penyelenggara untuk menjamu ‘tamunya’ ini, sehingga meninggalkan kesan yang tidak terlupakan diantara para musisi dan para penggemarnya. Selama gelaran acara Jakarta International Djarum Super Mild Java Jazz Festival 2012 “Where Jazz Finds a Home” berlangsung dari tanggal 2-4 Maret 2012 lalu, Area JIE Expo Kemayoran, Jakarta dipadati oleh para pengunjung yang ingin melihat pertunjukan musisi favoritnya. Antrian pun mengular di pintu-pintu masuk area pertunjukan. Hal ini memperlihatkan apresiasi masyarakat yang besar terhadap musik Jazz. Musisi Kelas Dunia Suatu kehormatan bagi Indonesia bisa menyambut kedatangan sederet musisi Jazz kelas dunia yang tampil spektakuler dan begitu berkesan. Salah satunya adalah Al Jarreau bersama George Duke Trio dengan penampilan yang penuh improvisasi, dan teknik scat-singing yang khas berhasil membuat para penonton terkagum-kagum pada special show di hari pertama dan hari terakhir. Tidak ketinggalan Erykah Badu yang dijuluki ratu neo-soul, dan salah satu legenda Jazz Herbie Hancock, semakin menambah kemeriahan semarak pesta Jazz di hari pertama. Laura Fygi yang sudah mnginjak usia senior dan mengaku sudah tidak bisa tampil selincah dulu pun, masih tetap terlihat energik di atas panggung. Penonton diajak bernyanyi bersamanya dan kadang disisipkan dengan guyonannya yang mengundang tawa. Sementara lagu-lagu lawas yang dibawakan Jeff Lorber dan Phil Perry di hari dan tempat yang berbeda, selalu memancing para penonton untuk bernyanyi bersama tanpa perlu arahan dari mereka. Berbeda dengan Julliard Jazz Quartet, yang pada malam itu menyuguhkan musik pure Jazz yang berkelas. Untuk genre Jazz yang lebih ringan dan Groovy dibawakan oleh Swing Out Sister, D’Sound (band asal Norwegia) yang menyatukan Jazz dengan musik elektronik, dan Juga Mayer Hawthorne and The County dengan nuansa soul-modern/funk. Tidak ketinggalan duo gitaris asal Jepang, Depapepe yang selalu membuat feel yang menyenangkan melalui musik instrumentalnya. Dan tentu saja sang Legenda, Stevie Wonder menjadi penutup yang paling ditunggu-tunggu di festival Java Jazz 2012. Kira-kira sekitar satu jam dari jadwal yang telah ditentukan, Stevie baru muncul di atas panggung dan membuka malam itu dengan lagu “How Sweet It Is” sambil memainkan keytar, yang disambut dengan meriah oleh para penonton. Dan disusul dengan “The Way You Make Me Feel”, “Overjoyed” dan lagu-lagi hits lainnya dengan sangat apik. Di sela-sela pertunjukannya, Stevie juga sempat menyampaikan pesan untuk menjaga perdamaian dengan cinta tanpa memandang agama apapun. Sepertinya malam itu Stevie akan selalu dikenang oleh para penggemarnya. Ajang Promosi  Dengan menjadi tuan rumah dari ajang festival musik Jazz berskala internasional ini, pihak penyelenggara dan sponsor juga berharap dapat mempromosikan musisi tanah air yang berbakat ke level internasional. Diantaranya, Dewa Budjana yang juga dikenal sebagai gitaris dengan genre Jazz kontemporer, tampil bersama penabuh kendang dan peniup suling, menghasilkan sebuah harmonisasi Jazz yang bernuansa etnik. Sedangkan Dwiki Dharmawan bersama Sa’Unine String Quartet juga sama menariknya dalam mengolah musik tradisional. Untuk menghormati legenda musisi Jazz Indonesia, alm. Bubi Chen dan alm. Utha Likumahuwa, pihak penyelenggara membuatkan acara khusus untuk mengenang kiprah mereka di ranah musik Jazz Indonesia. Indra Lesmana juga dipercaya sebagai Music Director untuk menggelar pertunjukan khusus dalam rangka memberi penghormatan kepada Herbie Hancock. Para musisi muda yang menjadi generasi penerus musik Indonesia, juga berhasil membuktikan kemampuan mereka di atas panggung. Trio Lestari yang terdiri dari Tompi, Glen Fredly dan Sandy Shondoro adalah para penyanyi pria Indonesia yang dikenal memiliki karakterk vokal yang sama-sama kuat dan unik. Bukan saja tampil memukau dengan musik bernuansa modern Jazz yang dibawakan, mereka juga mengkampanyekan pesan perdamaian dan juga menyindir tindak korupsi. Dira Sugandi kali ini menampilkan sebuah konsep yang berbeda dengan membawakan lagu-lagu Ballads untuk menghormati para penyanyi Jazz wanita legendaris, bersama full orchestra. Hasilnya suasana Jazz yang berkelas pun dapat dinikmati dengan penuh decak kagum para penonton yang memadati hall. Sementara penyanyi wanita muda lainya seperti, Andien, Monita Tahalea, Lala Karmela dan Raisa juga memiliki keunikan tersendiri dalam menambah semarak festival Jazz. Maliq n d’essentials menjadi pembuka di hari pertama dengan mengusung Jazz yang lebih modern dengan penampilan dan koreografer yang menarik. Disusul dengan nama-nama seperti Barry Likumahuwa Project, Abdul n The Coffee Theory, Soulvibe, dan The Extra Large yang membawakan genre Jazz yang ringan dan funk, digemari oleh anak-anak muda. Kolaborasi Spektakuler  Berbagai kolaborasi spektakuler yang berhasil digelar juga merupakan salah satu usaha yang dilakukan Java Festival Production untuk membangun citra sebagai tuan rumah yang baik. Diantaranya Indra Lesmana bersama LLW yang berkolaborasi dengan Maurice Brown, yang telah mengantongi Grammy Award tahun ini. Dave Koz yang membuka penampilannya dengan lagu pop “Keliru” dan “Manusia Bodoh”, berkolaborasi dengan live akustik band dari Bandung. Sementara Bobby McFerrin yang dikenal dengan mega hit “don’t worry be happy” tampil berkolaborasi dengan musik perkusi tradisional dan tarian topeng, memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia di pentas festival Jazz internasional. Meningkatkan Eksistensi Indonesia di Mata Dunia Musik Jazz yang awalnya berkembang di negeri paman Sam ini, sekarang telah mengalami berbagai pengaruh dari bermacam-macam genre musik sesuai dengan kreatifitas masing-masing musisinya. Dengan menjadi tuan rumah bagi festival musik Jazz internasional, Indonesia selayaknya dijadikan sebagai salah satu negeri yang eksistensinya diakui dunia. Desca Ardhi Yudha Photo by Egon Saputra