We The Happy Family – Potret Keluarga Bahagia Tanpa Cinta

10-01-2012 05:01:43 By Desca A. Yudha
img

Setiap keluarga yang ada di seluruh dunia ini tentunya mendambakan sebuah keluarga yang bahagia. Namun bagaimana mendeskripsikan keluarga bahagia itu? Bagi keluarga yang dibangun oleh Giar (Ade Faizal) dan Shemi (Anna Tarigan), kebahagian itu berarti hidup serba berkecukupan dan berlimpah harta. Tidak ada tawa dan kehangatan yang hadir dalam keluarga ini. Semua disibukkan oleh rutinitas masing-masing. Itulah konsep keluarga bahagia dalam sebuah lakon “We The Happy Family”, yang telah dipentaskan pada tanggal 7 dan 8 Januari 2012 lalu di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. “We The Happy family” mencoba menuturkan kisah sebuah keluarga yang dibangun dengan fondasi materialisme dan konsumerisme, di era moderen seperti sekarang ini. Dengan alur cerita yang berjalan mundur, penonton diajak untuk menebak-nebak jalan cerita dari setiap babaknya. Di awal cerita dikisahkan seorang wanita bernama Turni (Sri Hardini) yang berdandan secara berlebihan (kelak diketahui sebagai seorang pembantu rumah tangga) sedang diinterogasi oleh polisi (Epy Kusnandar) yang mengenakan seragam polisi yang tidak seperti biasanya (atasan seragam polisi dengan celana jeans super pendek) di sebuah ruangan. Tidak dapat diketahui dengan jelas dari dialog yang terjadi diantara mereka mengenai kasus apa yang sedang diselidiki oleh sang polisi. Lalu penonton dikagetkan dengan kedatangan seorang polisi lagi (Ramadhan Airasyid) yang membawa seorang anak laki-laki dalam sebuah trolley belanjaan, yang dituduh sebagai tersangka pembunuhan kedua orang tuanya sendiri hanya karena masalah yang sepele, tidak dibelikan sebuah sepeda motor. Walaupun hal ini tidak berhubungan langsung dengan jalan cerita, tapi peristiwa yang diangkat dari kisah nyata tersebut menguatkan cerita mengenai isu materialisme dan konsumerisme dalam sebuah keluarga. Pada babak selanjutnya, Turni sang pembantu menuturkan kisah kepada polisi mengenai kehidupan sehari-hari keluarga Giar dan Shemi bersama ketiga anaknya Mobby (Bichar M.F), Lita (Ilvi Rahmi), dan Rocky (Aby Grass). Setting panggung pun berubah menjadi setting dalam sebuah rumah lengkap dengan berbagai perabotan rumah tangga. Yang menarik dari setting rumah ini adalah konsep desainnya yang juga mirip dengan sebuah supermarket. Seperti palang pintu masuk ke dalam supermarket yang biasanya berada sejajar dengan kasir sebagai pengganti pintu rumah, cooler minuman yang besar dan juga trolley yang dijadikan pengganti meja TV. Saya menebak-nebak konsep ini sengaja dihadirkan untuk memberikan kesan konsumerisme dalam keluarga. Dikisahkan bahwa Keluarga yang tinggal dalam satu atap ini hidup tanpa kehadiran cinta di tengah-tengah mereka. Seolah-olah materi adalah bentuk kasih sayang yang telah diberikan kedua orang tua kepada anak-anaknya. Setiap hari tidak pernah ada obrolan hangat yang hadir ditengah-tengah keluarga, setiap anggota keluarga semakin larut dalam rutinitas dan permasalahan hidup masing-masing. Perilaku ini membuat keterasingan semakin terasa diantara anggota keluarga, bahkan menimbulkan rasa saling membenci. Ironisnya klimaks dari konflik diantara anggota keluarga ini terjadi ketika mereka sedang mencoba mencari makna dari kebahagiaan yang hakiki. Foto keluarga yang telah bertahun-tahun terpajang di dinding rumah, menjadi semacam potret yang mengingatkan akan hadirnya kehangatan cinta yang dulu pernah mengisi hari-hari mereka di dalam rumah. Namun ditengah-tengah acara pemotretan yang mereka lakukan kembali untuk membantu menyelamatkan keluarga, malah memicu terjadinya konflik keluarga, yang dipancing oleh kelakuan Rocky yang nekat. Perasaan benci yang mereka pendam selama ini terhadap masing-masing anggota keluarga mendadak tertumpahkan dengan cara menyakiti satu sama lain. Photo studio yang mereka kunjungi pun menjadi saksi bisu peristiwa tragis yang mengakhiri keluarga ini. Tapi tidak sepenuhnya ending dari cerita ini berakhir tragis. Anak perempuan satu-satunya, Lita berhasil menyelamatkan diri dan memulai kehidupan barunya dengan fondasi kebahagiaan yang sebenarnya. Ada perasaan sedih menyaksikan kenyataan bahwa masih ada keluarga yang membangun fondasinya dengan materi. Timbul sedikit ketegangan dengan munculnya sosok Joker ( khayalan alam bawah sadar) yang menyuruh Rocky untuk mengakhiri permasalahan keluarga ini dengan cara yang tragis. Tapi juga ada tawa melihat berbagai tingkah laku yang konyol dan dialog yang kadang-kadang terasa satir. “We The Happy Family” merupakan sebuah pertunjukan teater yang menghibur tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan kepada para penonton, yaitu untuk segera menyelamatkan keluarga kita dari materialisme dan konsumerisme. Save Our Family! Text by Desca Ardhi Yudha Photo by Egon Saputra