Djarum Super Jakarta Blues Festival 2011

20-12-2011 05:12:10 By Desca A. Yudha
img

[dropcap style="inverted"]D[/dropcap]jarum Super Jakarta International Blues Festival kini hadir kembali di Istora Senayan pada tanggal 17 Desember 2011. Dengan mengangkat tema : “Keepin The Blues Alive : In Blues We Trust”, festival musik blues terbesar se-Asia Tenggara yang telah menginjak tahun ke-tiga ini, percaya bahwa dengan menggairahkan musik blues di tanah air dan juga mendukung bakat-bakat musisi blues lokal ke dunia internasional, dapat mengangkat citra Indonesia di mata dunia. Festival blues tahunan kali ini menampilkan permainan musik blues berkualitas dari musisi blues Internasional dan juga musisi blues lokal berbakat, dalam 5 stage khusus sesuai dengan tema masing-masing. Hujan pun menyambut kedatangan team Jakarta Venue di Istora Senayan pada sore hari itu. Untungnya tidak semua stage berada di area outdoor, jadi kami tidak harus berbasah-basahan. Kami langsung menuju Blue stage, dimana Gugun Blues Shelter sedang tampil. Karena cuaca yang masih gerimis, para penonton tidak memadati area blue stage melainkan berlindung di bawah tenda-tenda tenant. Tapi hal itu tidak mengurangi spirit blues yang dibawakan Gugun Blues Shelter dalam tribute to SRV.  Jakarta Venue lalu langsung memasuki area indoor Istora Senayan menuju Red stage (main stage) untuk melihat penampilan dari Ladies In a Blues Band bersama sejumlah musisi seperti Oppie Andaresta, dan Bertha yang ikut meramaikan main stage dengan tipikal suaranya yang soulfull dan jazzy. Setelah itu  giliran seorang wanita muslim keturunan barat, mengambil alih posisi vokal dengan gaya berbusana muslim yang simple dan suara yang lembut, membawa sebuah kesederhanaan dalam musik blues. Dan crowd pun semakin riuh ketika Kara Grainger (seorang musisi dari Australia), turut tampil bersama Lady In a Blues Band di stage. Kara Grainger mengaku sangat senang bisa bermain musik blues bersama para wanita ini. Endah N Rhesa tampil di Green Stage, stage khusus yang menampilkan permainan akustik di dalam suatu ruangan yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan main stage. Tapi justru saya lebih menyukai setting stage yang simple dan area yang mungil untuk melihat aksi panggung pasangan ini, karena terasa lebih intimate dengan penonton. Semua penonton pun duduk dengan rapi melihat aksi pasangan yang romantis, aktraktif, dan penuh spontanitas ini. Mereka membawakan beberapa lagu dari album mereka yang lama seperti “Baby It’s You” dengan intro yang diambil dari soundtrack film Mission Impossible, “When You Love Someone” yang memancing penonton untuk bernyanyi dan ber-galau ria bersama :p, juga lagu baru “Balada TKW” yang menceritakan keprihatinan mereka terhadap TKW. Dan Green stage pun kemudian disusul dengan penampilan dari Andre Harihandoyo And Sonic People. Rasa penasaran saya juga muncul setelah saya tahu ada salah seorang mantan penyiar radio Prambors Jakarta, Warman Nasution yang turut tampil bersama band-nya TOR di Blue stage. Band funk ini menggabungkan musiknya dengan nuansa tradisional, melalui alat perkusi Gendang. Sebuah eksperimental yang cukup berani. Penampilan Soulmate (India based) juga ditunggu-tunggu oleh para blues enthusiast. Apalagi bagi saya yang masih awam dengan blues, karena biasanya orang India itu yaa identik dengan lagu-lagu khas India seperti di film-film Bollywood. Tapi Soulmate yang digawangi oleh Rudy Wallang (guitar/vocal/songwriter), dan Tipriti TIPS Kharbangar (vocal/guitar) ini memainkan musik blues yang jauh berbeda dari kebudayaan mereka di India dengan sangat apik. Bahkan ketika penonton berteriak “we want more!...”, mereka kembali lagi bersiap-siap ke main stage membawakan satu lagu terakhir yang disambut keriuhan dan tepuk tangan penonton. Sementara itu Black stage secara khusus menampilkan musisi dengan bakat-bakat baru dan new rising star blues. Jakarta Venue sempat menyaksikan penampilan dari Blackout, yang namanya telah meramaikan dunia musik Indonesia dengan mengusung pop-rock. Lalu Balawan and Friends juga ikut memeriahkan area Black stage, mereka sempat membawakan lagu “Roxane” dengan sentuhan blues. Balawan sendiri adalah seorang gitaris jazz Indonesia, dan mungkin ini menjadi kesempatan yang langka untuk melihat penampilannya dalam blues. [toggle title="Photos"] [/toggle] Di malam hari Blue stage menampilkan musisi blues Internasional BoPoMoFo, yang personilnya masing-masing berasal dari negara AS, Kanada, Jerman dan Jepang. Dengan gaya berpakaian mereka yang formal membangun nuansa blues yang elegan. Selain itu juga ada penampilan dari musisi blues muda Indonesia yang sayang kalau dilewatkan, yaitu Ginda And The White Flowers. Dengan formasi, Ginda Bestari (front man) pada lead vocal dan gitar, Gega Gageh pada bass, dan Yandi pada drum (yang sempat digantikan Dede Ilman pada beberapa lagu di awal), mereka memainkan musik blues yang up-tempo, groovy dan funk, membuat feel yang asik untuk bergoyang. Lirik lagunya yang berbunyi “Cinta, kok merusak!” menjadi kata-kata yang menempel di kepala, karena penonton berkali-kali diminta untuk bernyanyi bersama. Dan yang paling ditunggu-tunggu di Blue stage adalah penampilan dari Sandhy Sondoro. Malam itu Sandhy Sondoro membawa tiga temannya dari Jerman untuk mengisi posisi drummer, Gitar dan Bass. Juga mengajak musisi lokal seperti Boris pada Gitar, dan Ifa pada keyboard. Sandhy Sondoro sendiri sempat memberikan kesempatan kepada Jakarta Venue untuk mengobrol mengenai kesibukannya saat ini dan album terbarunya (baru saja rilis dua minggu yang lalu) yang memiliki feel up-tempo dan sedikit lebih nge-pop. Ini dibuktikan dengan lagu-lagu baru yang dibawakannya malam itu yang bernuansa pop yang diharmonisasikan juga dengan blues dan jazz. Sandhy Sondoro meng-cover lagu “I Feel Good” dari James Brown, juga lagu “Anak Jalanan” dari Almarhum Chrisye yang berhasil dibawakan dengan nuansa pop-blues. Saya juga merasa hampir di setiap lagu yang dibawakannya terasa ada sentuhan jazz, mungkin ini dipengaruhi oleh Ifa yang notabene besar di band modern jazz Maliq n d’ Essentials. Crowd yang tidak kalah hebohnya juga memadati special show Gugun Blues Shelter di main stage. Jono (gitaris) malam itu memakai kostum binatang, yang saya sendiri tidak bisa menebak binatang apa itu? -,- Namun penampilan mereka tetap atraktif dan memukau seperti biasanya. Sama seperti saat Soulmate tampil, penonton pun berhasil memaksa Gugun Blues Shelter tampil sekali lagi ke stage untuk membawakan lagu terakhir. Masih di main stage, setelah melakukan persiapan yang cukup lama akhirnya sang legenda blues dunia John Mayall yang juga adalah guru dari gitaris kelas dunia Eric Clapton, muncul di main stage. Sebelum tampil bersama full band, John Mayall menunjukkan kemahirannya memainkan harmonika. Bahkan saat tampil bersama full band pun John Mayall memainkan harmonika sambil bermain keyboard. Walaupun sudah lanjut usia, tapi penampilannya masih tetap memukau dan penuh spirit of blues. Djarum Super Jakarta International Blues Festival ini telah membuktikan bahwa musik blues telah berkembang pesat di Indonesia, dengan munculnya musisi-musisi muda yang berbakat. Bahkan mereka telah membawa nama Indonesia ke level Internasional. Yup, In Blues We Trust. Text by Desca Ardhi Yudha Photo by Egon Saputra