Kadal Nguntal Negoro

15-10-2011 07:10:18 By Desca A. Yudha
img

Kadal Nguntal Negoro : Korup Siji, Korup Kabeh Ketika korupsi telah merajalela dan mendarah-daging di suatu negeri. Begitu banyak kekayaan dan aset-aset negeri yang telah berhasil dijarah demi kepentingan sendiri atau kelompok. Walaupun demikian korupsi bukanlah budaya kita. “Jangan menjadikan korupsi sebagai budaya, tapi malah harus menjadikan budaya sebagai senjata untuk melawan korupsi”-Redaksi Indonesia Kita. Dan dengan budayalah kita juga selalu diingatkan untuk tidak pantang menyerah dalam melawan korupsi yang dilakukan oleh para ‘kadal’ yang berkuasa. Kira-kira cara seperti itulah yang dilakukan forum Indonesia Kita untuk melawan korupsi, yaitu melalui pergelaran seni dalam pementasan lakon “Kadal Nguntal Negoro”, yang merupakan pementasan terakhir dari rangkaian program Indonesia Kita. Lakon  “Kadal Nguntal Negoro” yang didukung penuh oleh Djarum Apresiasi Budaya dan dipentaskan di Taman Ismail Marzuki pada tanggal 28-29 Oktober 2011 lalu ini, merupakan sebuah sindiran terhadap suatu negeri yang telah dikuasai para koruptor yang dikemas dengan sangat ‘menyentil’ dan jenaka. Pada awal pementasan dikisahkan tiga orang polisi yang sedang asik larut dalam obrolan seru, tiba-tiba didatangi oleh seorang pejabat yang mengaku sebagai koruptor dan meminta dibuatkan Berita Acara Pemeriksaan agar dirinya bisa dihukum. Polisi ini kemudian kaget, tidak percaya apa yang dikatakan oleh pejabat itu, dan menganggap bahwa itu semua hanya lelucon. Karena sangat tidak lazim bagi seorang koruptor melanggar kode etik koruptor dan dengan penuh kesadaran menyerahkan diri ke polisi. Lalu akhirnya sidang pun digelar. Namun, tetap saja koruptor tersebut dilindungi aparat hukum dan dinyatakan tidak bersalah. Melalui pengacara, koruptor meminta dengan cara apapun agar dirinya bisa dihukum. Akhirnya saksi kunci yang merupakan seorang Caddy Golf dihadirkan di persidangan dan dimintai kesaksian. Singkat cerita Caddy Golf ini memberikan kesaksian palsu, setelah sebelumya berhasil disuap. Lalu seorang pejabat yang mengaku koruptor ini bukannya dihukum karena tindakan korupsi, tapi malah dihukum karena telah melakukan perbuatan asusila bersama Caddy Golf di sebuah kamar hotel. Di akhir pementasan koruptor berteriak-teriak menumpahkan emosinya karena eksistensinya sebagai koruptor tidak diakui, dan dia juga berpesan kepada seluruh koruptor agar berani menunjukkan kejujurannya. Keberhasilan  lakon “Kadal Nguntal Negoro” ini, tidak lepas dari orang-orang kreatif dibalik pementasan.  Agus Noor, sang sutradara. Butet Kartaredjasa yang merupakan salah satu budayawan senior sebagai Produser, tim kreatif dan juga ikut berperan sebagai jurnalis. Djaduk Ferianto sebagai penata musik bersama Orkes Sinten Remen. Hadirnya trio GAM (yang mungkin kita kenal sebagai comic di acara Stand Up Comedy Indonesia) sebagai polisi dan juga aparat hukum di Pengadilan, memerankan lakon yang jenaka melalui banyolan khas mereka. Dan Susilo Nugroho yang berperan sebagai koruptor malah menjadi juru hibur utama dengan kecerdasan dan spontanitas dalam banyolannya yang terkesan ceplas-ceplos  dan mengundang tawa. Apalagi ditambah dengan hadirnya  Indro Warkop sebagai pengacara koruptor, yang menambah situasi komedi semakin terbangun. Belum lagi sepanjang pementasan, Susilo dan Indro Warkop saling ‘serang’ yang otomatis memancing tawa para penonton. Padahal mereka lakukan itu diluar skenario. Selain pergelaran seni, Indonesia Kita juga menggelar pasar kuliner selama pementasan berlangsung. Kuliner yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, hingga Maluku ada disini. Sebut saja Gudeg, Tahu Petis, Bakwan Malang, Sate Klathak, Rujak Cingur, Nasi Kuning, Nasi kucing, Papeda dan masih banyak lagi kuliner khas Indonesia yang begitu menggoda selera. Dan ini menjadi salah satu bukti kekayaan budaya bangsa kita. Walaupun bangsa ini sedang menghadapi masalah terbesar bernama korupsi yang sepertinya tidak ada habis-habisnya. Bangsa ini masih memiliki kekayaan budaya yang perlu dikenali dan dipelajari lagi lebih jauh. Jadi, “Jangan kapok menjadi Indonesia”-Butet Kartaredjasa. Desca Ardhi Yudha