Tradisi Minum Kopi Khas Indonesia

14-07-2011 09:07:24 By Muhammad Ishlah Alfath
img

Barangkali kita sering atau pernah mendengar espresso. Nah, itu teknik penyajian kopi khas Italia. Di Indonesia, tradisi minum kopi sudah cukup lama bahkan tua, yaitu kurang lebih 300 tahun. Tapi entah mengapa, di daerah urban atau kota besar, nyaris semua kafe menjagokan minuman espresso. Kopi Tubruk: Warisan Kultur Minum Kopi khas Indonesia Secara umum, teknik minum kopi yang paling purba adalah merebus dan menyiram air panas ke dalam gelas yang telah berisi bubuk biji kopi. Yang pertama adalah memasukkan bubuk biji kopi beserta hal lain (seperti gula atau rempah2) atau juga bisa bubuk biji kopi saja ke dalam suatu wadah, sebut saja panci (kadang disebut cezve, kanaka, Ibrik, dll), lalu disiram dengan air, dan direbus di atas alat pemanas, bisa kompor, tungku kayu bakar, dll. Yang kedua, mudah saja, tinggal memasukkan air ke dalam gelas yang sudah berisi bubuk biji kopi. Diamkan beberapa menit, atau silakan diaduk langsung, dan secara konvensional disepakati bahwa ampas dari penyeduhannya tidak dibuang atau dikeluarkan dari gelas. Nah, yang kedua ini disebut sebagai Kopi Tubruk. Kalo yang pertama disebut Turkis Coffee karena tradisi ini masih dirayakan di sana, dan alat2nya juga masih dikembangkan di sana. Setiap teknik penyajian penyeduhan kopi memang memengaruhi rasa, selain ada faktor lain tentu saja. Salah satu kekhasan teknik tubruk adalah waktu ekstraksi kopi lebih lama, selama suhu air mampu mengekstraksikan bubuk biji kopi dan/atau waktu kita menghabiskan kopinya. Karena hal itulah mengapa kadar kafein dari kopi tubruk lebih tinggi daripada espresso. Karena waktu ekstraksi tetap berjalan itulah kadang rasa dan aroma kopi bisa tidak stabil. Di kafe-kafe kota besar dan juga segelintir rumah tangga di kota besar, teknik penyajian sudah tidak hanya berpaku pada tubruk, melainkan macam-macam. Di desa, warung-warung kopinya (coffeeshop, cafe itu sama artinya dengan kedai kopi atau warung kopi, beda bahasa dan kultur saja) tentu saja kopi tubruk tetap menjadi pilihan utama. Di jakarta, Bandung, Medan, Surabaya, Kalimantan, dan kota lain, kopi tubruk tetap hidup di warung kopi yang tidak terlalu terpengaruh dengan citarasa atau citra Italia. Buat sebagian orang, kopi tubruk sudah ketinggalan zaman. Tapi, jika kita melihat bahwa minum kopi tidak sekadar minum saja, melainkan membicarakan tradisi, tentu akan jadi lain lagi melihat fenomena kopi tubruk itu sendiri. Meski begitu, proses icip-coba atau lebih dikenal bahasa Inggrisnya, cupping, menggunakan metode tubruk. Jadi, bisa disimpulkan, untuk lebih komprehensif dan holistik dalam mengenal karakter kopi, baik itu aroma, rasa, kepekatan, jejak rasa di lidah dan rongga mulut, keseimbangan karakter, dll, metode tubruk tetap dijadikan pilihan. Banyak Cara dalam Menikmati Kopi Menikmati kopi adalah hal pribadi. Dalam arti nikmat atau tidaknya kopi yang kita minum bergantung pada selera (lidah) kita. Tidak ada kebenaran tunggal bagaimana lidah kita menikmati karakter kopi. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika kopi tubruk dianggap sebagai teknik penyajian kopi yang tidak begitu baik atau bagus, mengingat selera lidah dan juga kultur merupakan hal yang tidak seragam. Meski SCAA (Specialty Coffee Association of America), SCAE (Specialty Coffee Association of Europe), MariaSweet, bilang kopi itu harus begini atau begitu yang didukung dengan penelitian saintifik, itu tidak berarti lidah seseorang itu bisa didikte. Sebagai catatan, SCAA dan SCAE saja memiliki "titik emas" karakter kopi yang berbeda ketika disajikan. Atau kopi Americano bisa dijadikan contoh lain. Seperti yang sudah disinggung, di Italia ada espresso. Pada masa Perang Dunia II, para tentara Amerika yang tidak begitu cocok dengan espresso meminta kepada para barista atau penyaji kopi untuk menambahkan air panas di kopi espresso mereka. Akhirnya, muncullah istilah peyoratif Americano. Beda lidah, beda cara dalam menikmati sesuatu rasa minuman, dalam hal ini kopi. Kopi Gaya Indonesia Kopi Tubruk adalah identitas. Melalui kopi tubruk itu juga kita bisa melacak bagaimana orang-orang di Indonesia sejak kurang lebih 300 tahun lalu merayakan tradisi minum kopi. Kopi tubruk adalah monumen sejarah kopi di Indonesia. -Kaskus