Social Media & Gaya Hidup

05-06-2011 01:06:20 By Muhammad Ishlah Alfath
img

“Morning tweeps, how is your day? Jalani hari dengan semangat yah”. Itulah sebait status twitter seorang teman ketika memulai harinya. Ya, update status facebook atau sekedar cuap-cuap (nge-twit) di twitter sepertinya sudah menjadi bagian dari gaya hidup manusia modern. Dari survey random yang dilakukan JakartaVenue terhadap 100 orang, 70% dari mereka setidaknya meng-update status mereka di facebook 3 kali sehari dan nge-twit lebih dari 10 kali sehari dan hanya sekitar 2 kali check in di foursquare. Social Media, telah menjadi alat utama yang ampuh untuk menunjukan eksistensi seseorang dalam interaksinya dengan orang lain. Update status di social media seperti facebook dan twitter bahkan telah menjadi semacam kebutuhan bagi mereka yang haus akan eksistensi. Siang dan malam status facebook dan twitter tak pernah berhenti selalu berganti tiap detiknya. Bahkan saking “penting” nya update status, untuk beberapa orang handphone harus selalu ada di dekat kita. Dari bangun tidur sampai menjelang tidur. Sampai-sampai mau melakukan hal yang sebenarnya kurang penting seperti mandipun harus “maksa” update status terlebih dahulu. Mungkin mereka ini boleh dibilang memiliki tipe “lebih baik gak makan dari pada gak update status” :D Tidak ada yang salah sama sekali sebenarnya dengan hal tersebut, sepanjang tidak memancing provokasi bersifat SARA. Sah-sah saja, toh tidak ada peraturan yang melarang kita untuk itu. Bahkan beberapa perusahaan telah menerapkan untuk “mengintip” setiap status facebook atau twitter calon karyawannya. Karena mungkin setiap status ada kaitannya dengan psikologi seorang calon karyawan. Apakah dia tipe pengeluh, penyemangat atau hal lainnya. Seperti halnya yang terjadi di Timur Tengah sekarang ini dimana rakyatnya bergerak untuk melawan tirani, mereka turun ke jalan tanpa komando pengeras suara, melainkan lewat pesan singkat yang beredar via facebook & twitter. Di Indonesia sendiri Facebok dan Twitter menjadi salah satu instrument untuk meraih simpati pada isu–isu yang menyentuh hati nurani  seperti pada kasus Cicak versus Buaya (Bibit-Chandra) dan Koin Untuk Prita. Pada akhirnya kitalah yang berkuasa penuh terhadap apa yang kita update via status facebook maupun twitter. Jadikan hal itu hiburan yang bermanfaat untuk menambah teman, sharing info atau sekedar menulis kegalauan hati. Sebisa mungkin hindari hal-hal negatif seperti menyebarluaskan info nagatif tentang bos di kantor. Atau anda akan mendapati bbm dari bos berbunyi "You're Fired!" Teguh Nugroho