Opera Sejarah Kolosal “Ken Dedes” Wanita Dibalik Tahta


Ken Dedes

Dunia tari di Indonesia khususnya, dan dunia seni pada umumnya, bakal diramaikan dengan kembalinya seorang penari yang dulu pernah eksis. Lantaran kesibukannya sebagai pengusaha, sudah 20 tahun ini dunia tari ditinggalkannya. Eny Sulistyowati, Alumnus IKIP Negeri Surabaya ini merasa sangat rindu dengan dunia tari yang dulu pernah digeluti dan diakrabinya. Bukanlah sesuatu yang mudah meninggalkan dunia tari. Setelah 2 dekade meninggalkan dunia tari dan menjadi direktur utama dan komisaris dibeberapa perusahaan miliknya, kini segera kembali ke dunia seni yang pernah membesarkan namanya. Dan Eny Sulistyowati tidak pernah merasa pensiun menjadi penari.

“Sambil bekerja, saya selalu memikirkan untuk aktif kembali terjun di dunia tari. Dan ini saatnya, saya nyatakan saya telah kembali dunia tari yang selalu membuat saya rindu“ tutur perempuan kelahiran Nganjuk Jawa Timur ini dengan penuh keyakinan.
Sebagai gebrakan, Eny Sulistyowati dalam waktu dekat akan menggelar opera sejarah secara kolosal berjudul “KEN DEDES“.  Fiksi sejarah kerajaan Singasari yang menceritakan tentang Ken Dedes, wanita cantik jelita yang mempunyai keelokan di betisnya dan dari rahim Ken dedes lahirlah raja-raja besar di tanah Jawa, dari Singasari hingga Keraton Surakarta dan Yogyakarta hingga kini. Demikianlah Ken Dedes, wanita dari desa Panawijen dan dengan betis indah yang bercahaya itu, bisa dikatakan sebagai wanita terbesar di tanah Jawa.

“Pemilihian cerita ini disesuaikan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini yang memerlukan pencerahan. Kisah Ken Dedes ini diharapkan dapat memberikan inspirasi yang tak pernah padam bagi para wanita agar bisa menjaga diri, karena perannya sangat berpengaruh besar terhadap kondisi politik Negara” ungkap Eny menjelaskan.
Opera Sejarah “Ken Dedes” – Wanita Dibalik Tahta, adalah sebuah pementasan opera yang akn didukung tidak kurang dari 150 seniman dari berbagai daerah. Opera ini akan dipentaskan pada 2 Februari 2013 di Gedung Kesenian Jakarta dan di beberapa tempat lainnya.
Keinginannya untuk menggelar opera sejarah Ken Dedes ini memang begitu menggebu. Ia bersama perusahaan event organizer  TRI ARDHIKA Production, yang dipimpinnya, sudah mulai menggarapnya sejak beberapa bulan yang lalu. Dari merencanakan, mengkonsep, hingga melaksanakannya.