Nasib Pasar Antik Jalan Surabaya di Tengah Modernisasi

Nasib Pasar Antik Jalan Surabaya di Tengah Modernisasi


Dibalik megahnya mall dan gedung-gedung bertingkat, ternyata Jakarta masih memiliki sebuah kawasan yang menyimpan nilai history yang kental dan wajib untuk dikunjungi. Jalan Surabaya, suatu kawasan yang menjadi lokasi wisata utama di Jakarta.

Ketertarikan wisatawan lokal maupun mancanegara pada tempat ini adalah tersedianya barang-barang klasik nan antik yang tidak bakal bisa ditemui di pusat perbelanjaan modern saat ini. Terletak di Menteng-Jakarta Pusat, Pasar Antik Jalan Surabaya sudah diakui oleh Pemprov DKI sebagai pasar antik tradisional yang legal. Jadi, tidak perlu takut untuk melakukan transaksi di pasar ini. Satu hal penting ketika ingin membeli barang-barang disini, tanyakan keaslian barang-barang antik tersebut karena banyak barang tiruan yang tampak persis seperti aslinya dan pastinya barang antik yang asli tentu memiliki harga yang jauh lebih mahal. Memang tidak semua pedagang berkata jujur saat ditanya asli atau tidak, oleh karena itu alangkah baiknya mengajak kerabat yang memang mengerti seluk beluk barang-barang klasik dan antik.

Berbagai macam barang sekelas benda-benda museum pun ada di pasar ini. Mulai dari Uang kertas dan uang logam, wayang, topeng, guci dan porselain, kompas, mikroskop, teropong, phonograph record, stir kapal, sampai helm penyelam. Buat para pecinta piringan hitam, disini juga tersedia beberapa Vinyl dari musisi lawas Tanah Air. Kebanyakan barang-barang yang dijual disini berasal dari Bali, Jawa, Papua, Sumatra, Cina dan warisan zaman Belanda. Agak sulit untuk mengklasifikasikan beberapa barang ke dalam kategori yang sesuai, namun disitu lah daya tariknya. Untuk masalah harga bervariasi, yang paling murah dipatok 25 ribu rupiah sedangkan yang mahal bisa sampai puluhan juta. Selain menjual, pedagang Pasar Antik Jalan Surabaya juga menerima barang-barang yang akan dilego oleh pemiliknya.

Pasar Antik Jalan Surabaya: Tetap Bertahan Di Tengah Pembangunan Ibukota

Tidak ada yang tahu pasti kapan mulai hadirnya Pasar Antik Jalan Surabaya. Menurut penuturan salah satu pedagang, Haji Mumu, Jalan Surabaya sudah hadir sejak tahun 1960-an. “Sebelum penuh barang-barang antik, kebanyakan pedagang menjual barang-barang bekas loakan, seperti perabot rumah tangga bekas. Sebelum berbentuk toko-toko seperti sekarang, para pedagang mendagangkan barang-barangnya dengan pikulan.” Ujar pedagang yang sekaligus Ketua Pasar Antik Jalan Surabaya tersebut. Kemudian para pedagang beralih menjualnya di peti-peti dan pemerintah menata tempat berdagang dengan memberikan tenda.

Tahun 1974, Gubernur Ali Sadikin meresmikan dan menetapkan tempai ini sebagai salah satu objek wisata utama di Jakarta. Baru pada tahun 1988 dibangun kios semipermanen seperti sekarang ini. Salah satu mantan Presiden Amerika, Bill Clinton, di tahun 1994 sempat mengunjungi Pasar Antik Jalan Surabaya yang memiliki 184 kios dengan panjang 500 meter ini. Dipicu krisi ekonomi dunia, pasar Antik pun terkena imbasnya. Dalam dua tiga tahun belakangan, barang antik yang laku jumlahnya terus merosot. Yang biasanya setiap minggu ada pembeli, belakangan hanya satu atau dua orang dalam sebulan. Ditambah lagi kasak kusuk mengenai relokasi pedagang oleh Pemprov DKI Jakarta yang belum tau pasti akan ditempatkan dimana. Miris memang, di satu sisi Pasar Antik Jalan Surabaya ditetapkan Pemprov DKI sebagai wilayah wisata bernilai sejarah. Sementara di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menggerusnya dengan alasan kepentingan lingkungan dan ketertiban.