Being a Responsible “Foodie”

By on June 2, 2011

Ketika memikirkan being green, atau bersikap environmentally responsible, kita berpikir akan daur ulang, menggunakan tas belanja kanvas, dan botol minum pribadi. Mungkin kita juga berpikir mengenai transportasi publik atau bersepeda untuk mengurangi  konsumsi bahan bakar. Jujur saja banyak yang langsung berpikir ‘ah.. itu hanya politik’ dan segera mengabaikannya. Ketika berpikir mengenai makanan, kita berpikir akanmenu favorit, harga makanan tersebut dan mungkin juga dampaknya kepada kesehatan. But there is so much more to it than that, because basically food is a social and environmental issue, apalagi kalau bicara soal fast food.

Apa yang terjadi dengan kebiasaan pergi ke pasar mencari bahan makanan segar, memasak di rumah, duduk dan menikmati makanan kita perlahan? What happened is fast food. Food culture kita telah jauh meninggalkan diet yang sehat dan aman bagi tubuh, masyarakat, maupun planet kita. Kita semua rentan terhadap pola konsumsi makanan yang menawarkan kepuasan cepat di tengah-tengah kesibukan keseharian kita. Its fast, its cheap and easy tapi pertimbangkan bahwa fast food, junk food, dan fake food yang kita konsumsi sehari-hari terkait dengan banyak permasalahan: pestisida kimia, produksi monokultur, pengawet, polusi, dan penyakit. Tradisi makanan lokal perlahan mulai tergeser, dan tanpa kita sadari kita semakin tidak peduli dengan kualitas makanan, dari mana asalnya, bagaimana rasanya dan bagaimana pilihan makanan kita berkontribusi terhadap permasalahan dunia.

Begitu dahsyat ancaman fast food  sampai muncul sebuah gerakan yang dinamakan Slow Food Movement (www.slowfood.com). Gerakan ini berusaha mendorong kita untuk menemukan kembali kenikmatan melalui makanan yang dihasilkan dengan pertimbangan terhadap komunitas lokal dan lingkungan hidup. Ada pepatah mengatakan  ‘YOU ARE WHAT YOU EAT,’ so be a responsible foodie – here’s how :

1.    Support local farmers and producers
I used to love peaches, dan sepertinya juga sangat mudah menemukan buah impor ini di supermarket-supermarket terdekat. But the peach has a story, sama seperti buah dan sayuran impor lainnya: ia telah dikirim dengan pesawat dan transportasi darat yang menghabiskan bahan bakar banyak (dalam jargon lingkungan disebut sebagai food miles) dan kemungkinan besar telah disemprot dengan lapisan pestisida dan pengawet agar dapat bertahan dalam perjalanan panjangnya. We should appreciate food that was grown and produced closer to home. Buah dan sayuran yang diproduksi secara lokal jauh lebih segar, mengurangi banyak tahapan pemrosesan, packaging, dan transportasi sehingga lebih aman buat lingkungan serta mengurangi ketergantungan terhadap supplier luar negeri. Lagipula di Indonesia kita diberkahi dengan hasil bumi melimpah seperti buah-buahan tropis yang luar biasa : markisa, sirsak, mangga, rambutan, and so many more. Nah, prinsip going local ini juga berlaku untuk bahan makanan jadi. So, by going local you support the local economy and help protect the environment too.

2.    Preserve cultural customs
Modernitas dan globalisasi telah membuka pintu bagi masuknya berbagai macam pengaruh. Keunikan, etnisitas, serta keanekaragaman budaya asli perlahan tersingkirkan dengan semakin banyaknya pilihan yang tersedia bagi konsumen. Hal yang sama terjadi pada makanan kita. Saat makan siang di food court bersama dengan teman-teman suatu hari, saya mencatat pesanan yang ada di meja: terdapat french fries dan burger franchise Amerika dilengkapi minuman bersoda, pasta dari food chain Itali, yoghurt dari New Zealand, dan  ada pula seperangkat sushi dari brand Jepang ternama. Namun setelah melihat sekitar, ternyata memang nyaris tidak ada pilihan makanan Indonesia di antara food stall di food court tersebut. Makanan Indonesia dengan rasa, bahan, bumbu dan cara penyajiannya yang unik sedang menghadapi persaingan yang hebat dan kitalah yang akan menentukan nasibnya. Whats not to love about Indonesian food anyways? Yummmmm! Melestarikan makanan Indonesia berararti melestarikan budaya, ekonomi masyarakat lokal dan juga lingkungan hidup. Once again going local with your food is the way to go.

3.    Promote organic farming
Pertanian organik pada dasarnya adalah sistem produksi yang akan mempertahankan kesehatan tanah, ekosistem dan manusia. Teknik yang digunakan bergantung pada proses ekologis seperti kompos, pupuk kandang, rotasi panen, dan pengendalian hama biologis artinya tidak ada penggunaan bahan kimia seperti pestisida, hormon tanaman, antibiotik dan hormon ternak, serta pengawet. Sebagian besar petani Indonesia adalah petani organik karena mereka meneruskan metode pertanian tradisional yang alami tapi kebanyakan produk mereka tidak bisa bersaing dengan produk pertanian impor bahkan kalah dengan produk organik impor (Ironis bukan? Produk organik impor?!).  Jadi ketika hendak memilih produk organik terutama di supermarket, lihat juga produsennya. Is it local produce? Untuk mengetahui supplier produk organik lokal cari tahu di  www.organicindonesia.org .

4.    Go with less packaging
Setiap kali berbelanja di supermarket saya masih menggelengkan kepala melihat berderet-deret sayuran berlabel ‘ORGANIK’ yang diselimuti berlapis-lapis plastik dan ditadahi Styrofoam. What a paradox. Jika dihadapi dengan pilihan, ambil produk makanan dengan kemasan yang minim dan bahan yang mudah terurai karena kemasan tersebut hanya akan menjadi timbunan sampah.

5.    Rely on yourself to feed yourself
Sekali-sekali pergilah berbelanja mencari bahan makanan segar dan masak makanan menu sehat kamu sendiri di akhir pekan. Or be brave and try urban farming. Bercocok tanam di pekarangan sendiri sangat memungkinkan, banyak jenis tanaman yang  mudah dibudidayakan (kangkung, cabai, daun singkong, kemangi, atau pohon buah) dan dapat menjadi hobi yang menyenangkan. Mau tau lebih banyak tentang urban farming dan tips-tipsnya? Follow komunitas @JktBerkebun (Jakarta Berkebun)

Now don’t let these tips go to waste. Coba pikirkan kembali pola makan kamu dan perbaiki sehingga tidak hanya sehat bagi tubuh, tetapi juga untuk petani lokal, budaya lokal dan lingkungan hidup. Slow down on the fast food for a start dan tingkatkan komitmen untuk menjadi a responsible ‘foodie’. Selamat makan!

Nadine Zamira

About JakartaVenue

JakartaVenue.com is an online publication that delivers news and features on lifestyle, entertainment, events, review and culture.
1 comments